Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2009

Pondok Gubuk 13 (Besi Bekas Berbunyi)




             Setelah tragedi kecil yang ku alami di sekolah baruku pagi itu, kini ku mantapkan langkah kaki menuju pintu sekolah tua yang terus menampakkan kesan tuanya. " Tap" langkah terakhirku terdengar parau oleh gesekan lantai yang ubinnya bolong-bolong seperti potongan-potongan biscuit yang digerogoti koloni semut hitam. Ruangan kecil di hadapanku kini bisa saja orang mengira sepetak gubuk yang tidak bermakna sama sekali, tapi di sinilah  awal mula kehidupan baruku akan mencapai episode terbarunya. Dinding tembok yang mungkin dulunya putih, terlihat samar oleh laju usia yang tak di sertai dengan pembaharuan. Jendela dari kayu-kayu lapuk yang tersumbat kaca, sebagian besar telah retak-retak dan bisa kupastikan kejahilan tangan-tangan segelintir kolonilah penyebab utama kemalangan si Kaca yang secara tidak langsung menyokong jalan hidup koloni. Mungkin selama ini sebagian koloni menganggap suatu objek hanyalah benda mati, yang bila sudah dimiliki akan terikat kontrak sampai barang itu menunjukkan manfaat terakhirnya atau malahan ada versi baru yang lebih dari versi terdahulu. Itulah sikap umum yang dimiliki kebanyakan koloni. apa boleh buat.

Jumat, 13 November 2009

Pondok Gubuk 13 ( Setetes Fatamorgana)


Pondok kamipun lama-lama mulai menjauh, masih terlihat lambaian kecil Ibu yang melepaskan kepergian anaknya di pesantren baru. Kami bertiga jalan terseok-seok karena kepanasan, walaupun jam masih menunjukkan pukul setengah 7. Inilah kenyataan, beberapa tahun menikmati mobil mewah milik ayah, kini hanya kekuatan kaki yang harus kami gunakan untuk menyusuri setapak demi setapak jalanan ini. Jarum jam terus merangkak naik, butuh waktu 15 menit buat aku dan kedua adikku sampai di sekolah baru kami. Di seberang jalan terpampang gerbang tinggi tapi kesan tuanya masih tetap terasa. Sepi, itulah kesan pertama yang mungkin bisa mendeskripsikan sekolah negeri itu. Aku dan kedua adikku saling berpandangan, tanpa pikir panjang, kaki-kaki lemas kami, dipaksa bangkit dan berusaha balapan dengan waktu. Gerbang terlewati dengan begitu saja, buru-buru kami masuk. Di benak kami bertiga, mungkinkah keterlambatan yang mengawalinya. Sampai di lapangan upacara yang belum diubin itu, kami menekan rem kuat-kuat. Sambil merunduk seperti orang ruku' saat sholat, ku tarik napasku yang ngos-ngosan. Memandang sekeliling, terlihat pemandangan yang membuat kami bertiga tercengang, enam ruang kelas berjajar rapi di depan kami, di tengahnya terdapat gang yang memisahkan kelas menjadi dua. Atapnya dari seng, bisa ku bayangkan saat hujan pasti suara genderang akan bertalu-talu, tembok monoton yang sering sekali ku temui di kebanyakan rumah, putih tapi tak berwujud warna aslinya bahkan cenderung mengarah ke warna coklat. Gorong-gorong kecil menghiasinya, sehingga menimbulkan pola baru pada dinding itu. Tak sampai di situ, tempat kami berdiri layaknya padang pasir yang panas, sisi depan kami berdiri dengan kokohnya tiang bendera dari bambu tua yang diujungnya terkibar dengan gagahnya sang merah putih walau warna putih dan merahnya bernasib sama dengan tembok ruang kelas baru kami.

Jumat, 30 Oktober 2009

Pondok Gubuk 13 (Pesantren Baru)





Semburat warna jingga tersembul dari ufuk timur, mataku terasa lengket oleh lem satu botol. Setelah adzan subuh menggema dari surau-surau dan semua orang melaksanakan kewajibannya, keputusan salah telah ku ambil. Bongkahan bantal empukku seakan menggoda untuk aku singgahi lagi, alhasil begini jadinya. Terseok-seok kubuka pintu kamar baruku, meja makanpun terpampang langsung. Si bungsu langsung menyapaku.





Sabtu, 24 Oktober 2009

Pondok Gubuk 13 ( Home Sweet House )


 Pagar berkarat, di tepi gubuk street atau bisa kita kenal dalam bahasa sehari-hari jalan gubuk. Lokasi sederhana perumahan yang hampir sesuai dengan tempat koloni bernaung. Kadang kita menganggap hidup tak berjalan bagai roda yang kadang diatas kadang dibawah. Tapi tak berlaku bagiku, hidupku seakan seperti ban kempes yang tak bisa berputar dan akhirnya penyok seperti kaleng bekas. Sebagai anak yang paling bongsor, sudah semestinya jadi panutan adik-adiknya. Keadaan yang memaksa kehidupan berubah secara drastis, ibu sekarang sendiri. Setelah melihat gelagat suaminya yang punya mata sebesar keranjang tukang buah membuat semuanya berakhir di meja hijau. Memang lagi musimnya kawin cerai. Tanpa pikir panjang kami bertiga, aku dan kedua adik perempuanku ikut ibu tak mau dengan ayah, mengingat seperti kebanyakan kasus yang berakhir dengan dikontraknya ibu tiri sebagai momok yang menakutkan. Kini kami bertiga bersama ibu memutuskan pindah ke tempat baru ini, rumah no.13 di jalan gubuk, yang menurut mitos angka 13 disebut angka sial, whatever lah.... Pertama ku injakan kaki di rumah itu yang terlihat hanya rumah kecil penuh dengan jaring-jaring spiderman. Mungkinkah dari istana pindah ke gubuk pekerja. Huh... Dengan senyum khasnya ibu mulai memenangkan kami.

Plurk